IKA PMII UI Dorong Munculnya Figur Pemersatu NU, Gus Hery Dinilai Mampu Akhiri Polarisasi Muktamar

7 hours ago 4

JAKARTA (2/7/2026) – Di tengah menguatnya dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Indonesia (IKA PMII UI) menyampaikan keprihatinan atas semakin tajamnya polarisasi yang berkembang di internal organisasi, termasuk belum tercapainya kesepakatan mengenai lokasi penyelenggaraan muktamar.

IKA PMII UI menilai perdebatan yang berlarut-larut mengenai persoalan teknis tersebut justru berpotensi mengaburkan substansi utama Muktamar, yakni merumuskan arah kepemimpinan dan agenda besar Nahdlatul Ulama dalam memasuki abad keduanya.

Ketua IKA PMII UI, Alfanny, mengatakan bahwa dinamika yang berkembang saat ini telah menimbulkan kesan kurang baik di mata publik.

"Masyarakat luas tentu sulit memahami mengapa organisasi sebesar Nahdlatul Ulama masih terjebak pada tarik-menarik kepentingan bahkan untuk menentukan lokasi Muktamar. Persoalan seperti ini seharusnya dapat diselesaikan melalui musyawarah sehingga energi organisasi lebih difokuskan pada pembahasan agenda-agenda strategis umat dan bangsa, " ujar Alfanny dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, NU selama ini dikenal sebagai organisasi yang menjunjung tinggi tradisi musyawarah, kebijaksanaan para ulama, serta kemampuan menyelesaikan perbedaan melalui dialog. Karena itu, dinamika yang berkembang menjelang Muktamar seharusnya tidak berkembang menjadi polarisasi yang berkepanjangan.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, IKA PMII UI memandang sudah saatnya NU membuka ruang yang lebih luas bagi hadirnya figur pemersatu yang tidak berada dalam pusaran konflik maupun faksi-faksi yang selama ini mendominasi dinamika internal organisasi.

Dalam pandangan IKA PMII UI, salah satu kader yang dinilai memiliki kapasitas untuk memainkan peran tersebut adalah Gus Hery Haryanto Azumi.

"Kami melihat Gus Hery merupakan salah satu figur muda NU yang layak dipertimbangkan memimpin PBNU. Beliau memiliki pengalaman panjang dalam organisasi, jejaring nasional dan internasional yang luas, serta menawarkan gagasan yang jelas mengenai arah kebangkitan NU di abad kedua. Yang tidak kalah penting, beliau relatif berada di luar tarik-menarik konflik yang selama ini berkembang sehingga berpotensi menjadi figur pemersatu, " kata Alfanny.

Mantan Wakil Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta itu menambahkan, tantangan NU ke depan jauh lebih besar dibanding sekadar dinamika kontestasi internal. Menurutnya, perubahan geopolitik global, perkembangan teknologi, transformasi ekonomi, hingga kualitas sumber daya manusia menjadi agenda yang harus mendapat perhatian utama kepemimpinan PBNU mendatang.

Karena itu, siapa pun yang nantinya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU diharapkan mampu menghadirkan kepemimpinan yang visioner, inklusif, serta berorientasi pada pembangunan kapasitas warga nahdliyin.

Alfanny mengingatkan bahwa sejak 2013, IKA PMII UI telah menggagas Visi Satu Abad NU, yang melahirkan konsep Trilogi Pembangunan Manusia NU, yakni penguatan sektor pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan sebagai fondasi utama kemajuan organisasi.

"Kami berharap kepemimpinan PBNU ke depan, termasuk apabila dipimpin Gus Hery ataupun figur lainnya, mampu menjadikan pembangunan kualitas sumber daya manusia sebagai prioritas utama. NU memiliki modal sosial yang sangat besar. Kini saatnya modal itu diterjemahkan menjadi kekuatan pendidikan, kesehatan, kebudayaan, penguasaan ilmu pengetahuan, serta daya saing global warga nahdliyin, " ujarnya.

Menurut IKA PMII UI, Muktamar NU ke-35 semestinya menjadi momentum konsolidasi dan regenerasi kepemimpinan, bukan ajang yang memperdalam fragmentasi di tubuh organisasi. Di tengah berbagai tantangan nasional dan global, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu merajut persatuan, memperkuat kaderisasi, serta menghadirkan visi besar bagi perjalanan organisasi pada abad keduanya.

"Bagi kami, yang paling penting bukan semata-mata siapa yang menang dalam Muktamar, tetapi bagaimana NU keluar dari proses tersebut dalam keadaan semakin solid, semakin dipercaya masyarakat, dan semakin mampu menjalankan peran strategisnya sebagai penjaga Islam moderat, perekat kebangsaan, sekaligus kekuatan peradaban dunia, " tutup Alfanny.  (PERS) 

Read Entire Article
Masyarakat | | | |