loading...
Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik UIII dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE). Foto: Ist
Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
PEKAN ketiga Operation Epic Fury Israel-AS ke tanah Iran telah berlangsung. Namun, belum ada kejelasan kapan perang akan berhenti dan siapa yang akan tertawa di akhir. Langit Iran semakin berkepul dengan asap hitam pekat, sementara media global disesaki prediksi tentang “kematian rezim” atau “kebangkitan Iran baru”.
Presiden Donald Trump, dengan gaya khasnya yang arogan, menyatakan bahwa ini adalah “momennya rakyat Iran”. Namun, di tengah gemuruh bombardir rudal Israel-AS, yang telah menewaskan sang Rahbar Ali Khamenei dan arsitek militer Ali Larijani dan tokoh-tokoh kunci lainnya, dan juga melemahkan pertahanan udara Iran, tidak ada tanda-tanda Iran akan menyerah.
Memang, Iran paska kemartiran Ali Khamenei dan Ali Larijani, jika merujuk pada Thomas Schelling, sedang berada dalam game of chicken (permainan adu nyali ayam) yang paling berbahaya. Dengan ujaran lain, Iran pasca-syahidnya sang Rahbar dan sang arsitek sedang berada dalam tekanan psikologis dan militer yang hebat. Namun, mereka merespons bukan dengan mengibarkan bendera putih, tetapi dengan menutup Selat Hormuz dan meluncurkan perlawanan heroik dengan Operasi Janji Sejati 4 (Operation True Promise 4) dan belakangan menggerakkan “operasi perang total”.
Terdapat paradoks dalam perang ini bahwa superioritas udara koalisi AS-Israel mungkin tak terbantahkan. Namun, siapa yang percaya bahwa rezim Teheran akan tumbang segera. Satu pertanyaan lain yang menggelayuti benak kita yaitu mengapa Israel-AS tidak melakukan perang darat? Dulu mereka pernah melakukannya di Irak dan Libya dan berhasil menggulingkan rezim. Di tanah Iran, Israel-AS tampaknya dirundung keraguan untuk melakukan perang darat. Jika Israel-AS memilih menuntaskan perang ini dengan jalan darat, maka, paling tidak, ada tiga kemungkinan yang bakal terjadi.


















































