Mengenal Emotional Eating dan Cara Mengendalikannya Selama Berpuasa

12 hours ago 9

loading...

Aspek emosional makan punya peran besar terhadap hubungan dengan makanan, terlebih saat bulan Ramadan. Foto/Aldhi Chandra.

JAKARTA - Saat menjalankan puasa, banyak orang fokus pada hidangan apa yang akan dikonsumsi saat sahur dan berbuka puasa . Namun aspek emosional makan juga punya peran besar terhadap hubungan dengan makanan, terlebih saat bulan Ramadan.

Emotional eating adalah perilaku di mana seseorang makan untuk merespons emosi seperti stres, sedih, bosan, atau cemas bukan karena benar-benar merasa lapar. Makanan sering digunakan sebagai pelampiasan emosi dan biasanya makanan yang dipilih adalah makanan tinggi gula, tinggi lemak, atau sangat mengenyangkan secara emosional.

Baca juga: Gorengan Jadi Menu Favorit Buka Puasa? Ini Bahaya Kesehatan yang Mengintai

Selama Ramadan, pola emotional eating bisa muncul di waktu sahur atau berbuka jika seseorang mengalami tekanan emosional. Misalnya stres, kelelahan, atau perubahan rutinitas, karena puasa bisa memengaruhi suasana hati dan keseimbangan perasaan.

Emotional eating bisa terjadi karena beberapa faktor, di antaranya:

1. Makan sebagai Pengalih Emosi

Saat merasa cemas, bosan, atau sedih, makanan sering digunakan untuk mengalihkan perhatian dari perasaan tidak nyaman itu. Selama puasa, perubahan pola tidur atau energi tubuh yang turun bisa membuat beberapa orang lebih rentan pada dorongan ini.

2. Kenikmatan atau “Comfort Food”

Makanan tertentu dapat memicu rasa nyaman atau nostalgia, sehingga dipilih untuk “menghibur diri”. Selama Ramadan, ini bisa muncul ketika berbuka di mana tidak sekedar untuk mengisi lapar, tetapi sebagai reaksi emosional terhadap energi yang rendah atau mood yang berubah.

3. Perasaan Negatif atau Stres

Stress, rasa bersalah, atau frustrasi bisa memicu keinginan makan yang tidak terkait lapar fisik. Puasa yang panjang atau ritme yang berubah terkadang memicu stres atau lelah, yang kemudian muncul sebagai dorongan makan emosional ketika waktu berbuka tiba.

Untuk itu penting mengelola emotional eating, termasuk saat puasa dengan cara berikut:

4. Perhatikan Rasa Lapar Fisik

Rasa lapar sesungguhnya adalah kondisi di mana perut terasa kosong, ada rasa lemah atau gemetar, dan kembali lapar setelah beberapa lama makan. Berbeda dengan lapar emosional yang sering datang tiba-tiba dan spesifik pada makanan tertentu.

5. Tanggapi Emosi dengan Cara Lain

Daripada makan saat merasa cemas atau stres, cobalah cara lain seperti berjaln santai, menulis jurnal, latihan pernapasan, berbagi cerita dengan teman dan lainnya. Selama Ramadan, refleksi, doa, atau meditasi ringan setelah berbuka juga bisa membantu meredakan emosi sebelum mengambil makanan.

6. Struktur Jadwal Makan yang Konsisten

Menjaga waktu sahur dan berbuka pada jam yang teratur dapat membantu tubuh dan pikiran beradaptasi, sehingga dapat menghilangkan kecenderungan makan impulsif saat waktu berbuka.

7. Fokus pada Nutrisi yang Membuat Kenyang

Memilih makanan yang kaya serat, protein, dan lemak sehat dapat membantu menahan lapar fisik. Sehingga impulsif makan emosional bisa berkurang.

(nnz)

Read Entire Article
Masyarakat | | | |