RSP Menang Pemilu, Pengaruh China di Nepal Berpotensi Menurun

15 hours ago 5

loading...

Kemenangan Partai Rashtriya Swatantra Party (RSP) dalam pemilu Nepal berpotensi menurunkan pengaruh China di negara Asia Selatan tersebut. Foto/ORF Online

JAKARTA - Kemenangan Partai Rashtriya Swatantra Party (RSP) dalam pemilu Nepal dinilai dapat mengubah peta politik negara tersebut dan berpotensi memengaruhi hubungan dengan China. Beijing selama ini memiliki kedekatan dengan partai-partai komunis di Kathmandu.

Dikutip dari Nepal Aaja, Sabtu (28/3/2025), sejumlah analis menilai hasil pemilu ini menjadi tantangan bagi Beijing, mengingat partai-partai komunis yang selama ini dianggap sebagai mitra politik utama China telah kehilangan pengaruh signifikan dalam lanskap politik Nepal.

Baca Juga: Pembersihan Militer China ala Xi Jinping Picu Ketidakpastian di Indo-Pasifik

Kemenangan RSP semakin menonjol setelah pemimpinnya, Balendra Shah, mengalahkan mantan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli di daerah pemilihan Jhapa-5, yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Oli.

Hasil tersebut membuka jalan bagi Shah untuk muncul sebagai kandidat kuat perdana menteri berikutnya.

Para pengamat menilai hasil pemilu ini mencerminkan perubahan preferensi pemilih, terutama dari kalangan muda, yang menolak dominasi lama partai-partai komunis.

Dampak terhadap Pengaruh China

Selama bertahun-tahun, China disebut berupaya mendorong persatuan partai-partai kiri di Nepal guna membentuk pemerintahan yang stabil dan sejalan dengan kepentingan Beijing.

Namun, dengan melemahnya kekuatan politik kelompok tersebut, pengaruh China dinilai berpotensi berkurang.

Sejumlah analis menyebut tanda-tanda penurunan pengaruh Beijing telah muncul sejak gelombang protes besar pada September 2025 yang berujung pada mundurnya K.P. Sharma Oli.

Protes yang dikenal sebagai gerakan “Gen Z” tersebut menewaskan sedikitnya 77 orang dan menyebabkan kerusakan pada gedung parlemen serta fasilitas pemerintah.

Sejak peristiwa tersebut, Nepal dipimpin oleh pemerintahan sementara di bawah Perdana Menteri Sushila Karki.

Pemerintah interim tersebut berulang kali menegaskan komitmen terhadap kebijakan “Satu China”, namun dinilai belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran Beijing.

Dalam beberapa bulan terakhir, China mengirim sejumlah delegasi resmi dan semi-resmi ke Nepal untuk memantau perkembangan politik dan implikasinya terhadap hubungan bilateral.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |