Syngenta Dukung Swasembada Pangan Melalui Pemberdayaan Petani Perempuan

9 hours ago 3

loading...

Syngenta Indonesia secara resmi meluncurkan komunitas Perempuan Tani Syngenta Raih Impian (PUTRI) Petani MAJU di Batang, Jawa Tengah. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Syngenta Indonesia secara resmi meluncurkan komunitas Perempuan Tani Syngenta Raih Impian (PUTRI) Petani MAJU di Batang, Jawa Tengah sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem pertanian yang inklusif. Inisiatif ini menjadi wadah pemberdayaan bagi jutaan petani perempuan di Indonesia guna meningkatkan produktivitas serta mendukung ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

"PUTRI Petani MAJU hadir sebagai wadah pemberdayaan yang akan menjadi katalisator transformasi sektor pertanian Indonesia. Komunitas ini menekankan peran strategis perempuan yang tangguh, konsisten, dan berdampak dalam pertanian. Ketika kita melatih satu perempuan, kita memberdayakan satu keluarga. Ketika kita memberdayakan PUTRI Petani Maju, kita memberdayakan satu bangsa Indonesia," ujar Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto dalam keterangan pers, Senin (23/2/2026).

Baca Juga: Syngenta Pasarkan NK Pendekar Sakti, Jagung Bioteknologi Pertama di Indonesia

Acara peluncuran ini dihadiri 450 petani perempuan, pejabat pemerintah, serta jajaran manajemen puncak termasuk Presiden Syngenta Crop Protection, Steve Hawkins. Prosesi gejog lesung dan pembacaan deklarasi oleh perwakilan petani menandai dimulainya gerakan yang mengedepankan nilai gotong royong dan kerja keras dalam menghidupkan visi Petani MAJU.

Momentum ini selaras dengan penetapan tahun 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan (International Year of the Woman Farmer/IYWF) oleh FAO. Hal tersebut menegaskan pengakuan global terhadap peran vital perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan dan gizi di tingkat keluarga maupun bangsa.

Data 2025 menunjukkan jumlah petani perempuan di Indonesia mencapai 4,2 juta orang dengan keterlibatan aktif dari hulu hingga hilir, mulai dari pemilihan benih hingga pengolahan hasil panen. Namun, tantangan besar masih membayangi karena hanya sekitar 10 hingga 20 persen dari mereka yang memiliki akses memadai terhadap input pertanian, teknologi, keuangan, dan pasar.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |