Tradisi Nyadran untuk Sambut Ramadan

2 hours ago 1

loading...

Tradisi Nyadran merupakan akulturasi budaya yang berkembang di Jawa, tradisi ini bergotong royong untuk membersihkan makam, bersedekah kenduri yang dibawa dari rumah masing-masing warga, mendoakan para arwah leluhur menjelang Bulan Raadan tiba. Foto istim

Menjelang tibanya bulan Ramadan , ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa, yakni tradisi Ruwahan atau Nyadran. Apa dan bagaimana sebenarnya tradisi Ramadan tersebut?

Tradisi Nyadran atau Ruwahan, awalnya merupakan tradisi yang berasal dari tradisi Hindu - Budha. Tradisi ini masih dilakukan di sejumlah daerah di Jawa, juga sebagian Sumatra. Lalu apa beda Nyadran versi Islam dengan Hindu-Jawa?

Ibnu Ismail dalam buku berjudul "Islam Tradisi Studi Komparatif Budaya Jawa Dengan Tradisi Islam" (Kediri, Tetes Publishing, 2011) menjelaskan pelaksanaan tradisi Ruwahan atau sering disebut Nyadran oleh penduduk Jawa memiliki perbedaan di setiap daerah. Hal ini terjadi karena setiap daerah memiliki alasan filosofi dan historis yang berbeda-beda di masing-masing daerah.

Selain itu, perbedaan dalam pelaksanaan tradisi ini juga dipengaruhi oleh keadaan akidah penduduk di setiap daerah tersebut. "Nyadran versi Islam jauh berbeda dengan Nyadran versi Hindu-Jawa," tulis Ibnu Ismail.

Nyadran versi Hindu lebih ke pemujaan. Umumnya dalam acara pemujaan, dukun akan menyiapkan kemenyan dan area bunga. Setelah pembakaran kemenyan, dibacakan mantra agar arwah datang bersemayan di area bunga yang mereka puja. Masyarakat menyiapkan sesaji kue, minuman, dan makanan kesukaan mayit.

Baca juga: Pahala dan Keutamaan Luar Biasa dari Puasa Ramadan, Simak Penjelasannya di Sini!

Selanjutnya sesaji ditata rapi, diberi bunga setaman dan diberi penerangan berupa lampu. Juga dilakukan penyekaran dengan mengirim bunga kantil, telasih, kenanga, melur, melati kepada arwah dan diletakkan di atas nisan.

Menurut Ibnu Ismail, makanan kesukaan arwah juga diletakkan di kuburan kemudian diadakan pembakaran kemenyan dan mengucap doa-doa. Tradisi pemujaan ini masih dapat dijumpai pada masyarakat abangan. Yang pada dasarnya, upacara nyadran adalah pemujaan pada arwah danyang desa yang berasal dari kepercayaan animisme dan dipusatkan pusara punden.

Sedangkan dalam versi Islam, kata Ibnu Ismail, nyadran adalah bakti dan hormat pada tetua dengan kirim doa, gotong royong, silahtuhrahim, yakni ajang perkenalan antara keturunan moyang desa.

Read Entire Article
Masyarakat | | | |