Raksasa Wall Street Menyerah Tak Lagi Sanggup Prediksi Harga Minyak, Ekonomi Dunia Diambang Bahaya?

3 hours ago 1

loading...

Bank raksasa Wall Street, JPMorgan secara mengejutkan menyatakan menyerah dan menghentikan prediksi dasar (baseline view) terhadap harga minyak dunia. Foto/Dok

JAKARTA - Langkah yang sangat langka dan mengejutkan terjadi di panggung keuangan global. Bank raksasa Wall Street, JPMorgan Chase & Co., secara resmi menyatakan 'menyerah' dan menghentikan prediksi dasar (baseline view) terhadap harga minyak dunia . Keputusan ini diambil seiring memanjangnya perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran tanpa ada kejelasan arah penyelesaian.

Analis JPMorgan mengakui bahwa ketidakpastian geopolitik dan manuver mendadak dari Presiden AS Donald Trump membuat model pasar minyak contekannya tak lagi berguna. "Kami sama sekali tidak tahu bagaimana cara memodelkan akhir dari konflik ini (endgame)," tulis tim analis JPMorgan dalam catatan riset resminya.

Ini menjadi kali pertama bank terbesar di AS tersebut gagal memetakan arah harga komoditas paling krusial di dunia. Baca Juga: Dulu Diperebutkan hingga Rp1,6 Juta per Barel, Kini Minyak Dunia Malah Mencari Pembeli

Sebelumnya, analis pasar meyakini ada 'garis merah' yang tidak akan dilanggar oleh pemerintahan Trump, seperti menjaga harga minyak di bawah USD100 per barel atau bensin di bawah USD5 per galon. Namun, Trump justru terus meningkatkan retorika perang dan mengancam akan "mungumpulkan dan memusnahkan" (annihilate) pemerintah Iran.

Dampak konflik ini juga menjalar cepat ke pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun menyentuh angka psikologis 5%, memicu kecemasan tinggi di Wall Street dan Washington terkait stabilitas sistem keuangan global.

JPMorgan mengakui bahwa beberapa proyeksi ekstrem mereka sebelumnya, seperti lonjakan harga hingga USD150 per barel tidak terjadi karena munculnya fenomena demand destruction (penurunan permintaan akibat harga yang terlalu mahal).

Read Entire Article
Masyarakat | | | |